Keikhlasan Dan Pengorbanan Oleh: Drs. Usman Daud, M. A (konsultan hukum Islam dan Keluarga)
17.01
Firman Allah: tatkala keduanya telah
berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah
kesabaran keduanya). Dan kami panggilah dia: “hai Ibrahim. Sesungguhnya kamu
telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan
kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian
yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan (Qibas) yang
besar”. QS. As-Shoffat/37:103-107.
Dalam cara faham tentang ikhlas
menurut kalangan Salaf, mereka berkata: Ikhlas itu adalah suatu amal yang
dilakukan hanya untuk Allah yang jauh dari sikap dan sifat riya’ dan sum’ah.
Pengorbanan berasal dari kata korban yang berarti persembahan, sehingga
pengorbanan berarti pemberian untuk menyatakan kebaktian. Dengan demikian
pengobanan yang bersifat kebaktian itu mengandung unsur keikhlasan yang tidak
mengharapkan suatu imbalan maupun pamrih dari orang lain.
Pengorbanan merupakan akibat dari
pengabdian. Pengorbanan dapat berupa harta benda, pikiran dan perasaan, bahkan
dapat berupa jiwanya. Pengorbanan diserahkan secara ikhlas tampa pamrih, tanpa
ada perjanjian, tanpa ada transaksi, kapan saja diperlukan. Pengabdian lebih
banyak menunjuk pada perbuatan sedangkan pengorbanan lebih banyak menunjuk pada
pemberian sesuatu misalnya berupa pikiran, tenaga, biaya, dan perasaan. Dalam
pengabdian selalu dituntut pengorbanan, tetapi pengorbanan belum tentu menuntut
pengabdian.
Sebagai ciptaan tuhan wajib mengabdi
kepada Tuhan. Pengabdian berarti penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan, dan
merupakan perwujudan tanggunggjawab kepada Tuhan. Akan halnya apa yang
dilakukan oleh Nabiyullah Ibrahim dan Ismail adalah amaliya monumental yang
menuntut keikhlasan dalam pengorbanan bahkan merupakan puncak dari semua bentuk
pengabdian dan pengorbanan yang pernah ada dimuka bumi. Para ulama yang
mengajarkan tentang nilai-nilai tauhid dalam pengorbanan mereka berkata:
“Ibrahim dan Ismail melakukan sesuatu perbuatan yang kecil yang menjadi jalan
untuk menuju pada sesuatu yang lebih besar dan lebih bermakna yakni penghambaan
diri kepada Allah secara total, utuh dan tidak bertepi dan memiliki komitmen
yang unggul yang melahirkan kebersamaan, cinta, kasih, dan sayang. Semua itu
untuk mewujudkan nilai-nilai spiritual berupa mahabbatullah, jangan sampai
cinta mengalami degradasi dan jatuh pada mahabbatullah adna (cinta yang rendah
dan tidak bermakna). Baca QS. al-An’am/6: 163.
Dalam hikmatut tasyri’ Allah swt
menjadikan Qurban dengan keikhlasan yang tinggi sebagai salah satu dari syi’ar-
syi’ar Allah di dalam agama-Nya karena memiliki tujuan yang amat tinggi yaitu
taqrrub kepada Allah Swt dan mencari ampunan dan keridoaan-Nya. Tidak lepas
dari itu semua, keikhlasan dan pengorbanan memiliki nilai-nilai sosial yang
tinggi dan hubungan yang harmonis dengan orang yang lebih baik dalam iman,
akhlak, maupun ekonomi. Takutlah kita kepada Allah dari do’a dua orang makhluk
yang paling lemah di muka bumi ini yaitu orang-orang yang janda dan orang-orang
yanh miskin. Wallahu a’lam.
Dikutip majalah Yatim Mandiri/Edisi
September 2017

0 komentar